Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Memori 1 Mei Bagi Orang Papua

Unknown | 01.20 | 0 komentar
Memori Orang Papua tentang 1 Mei adalah ingatan penderitaan karena sejak saat itulah sejumlah kekerasan dan penindasan terus terjadi. Itulah ingatan 1 Mei 1962, penyerahan Papua dari tangan  United Nations Temporary Executive Authority( Untea) ke Indonesia.

Setiap tahun Warga Papua memperingati 1 Mei sebagai hari Indonesia berhak memerintah di daerah Papua yang menurut orang Papua adalah hari aneksasi Papua ke Indonesia. Untuk memperingati hari tersebut pada tahun ini Kepolisian Daerah  Papua tidak memberikan izin kepada Orang Papua untuk  melakukan aksi. Namun sejumlah orang Papua yang tergabung dalam gerakan perjuangan Papua untuk independen seperti Komite  Nasional Papua Barat (KNPB)  bertekad akan tetap menggelar demo pada Selasa (1/5) .

Dalam ingatan orang Papua penyerahan Papua ke Indonesia diawali dengan perjanjian New York antara Pemerintah Indonesia dan Belanda. Perjanjian tersebut tidak melibatkan orang Papua untuk ambil bagian menentukan masa depan tanah dan nasib orang Papua. Walaupun saat itu Pemerintah Belanda terus berusaha mempertahankan kuasanya atas Papua serta membentuk pemerintahan Papua sendiri.

Penyerahan tanah Papua ke Indonesia ini terjadi pada tanggal 1 Oktober 1962, ketika United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) mengambil alih dari Belanda yang terus mempersiapkan Papua.

Mengapa perjanjian untuk menentukan masa depan Papua antara Belanda dan Indonesia dilaksanakan di Amerika? Jawabannya karena Amerika tertarik dengan adanya penemuan tambang Emas dan Tembaga terbesar di dunia di daerah Papua. Amerika sangat berambisi untuk mengambil sumbar daya alam dari wilayah sengketa tersebut.

Dasar pijakannya adalah,Presiden Amerika saat itu  John F Kennedy berpandangan bahwa akrabnya Soekarno dengan Komunis bukan soal ideology Komunis tetapi Soekarno saat itu  membutuhkan bantuan senjata dan ekonomi. Sehingga  Departemen Luar Negeri di Amerika Serikat mengakui bahwa Sukarno lebih nasionalis ketimbang Komunis.

Namun sengketa Irian Barat menimbulkan dilema bagi Amerika. Satu sisi Belanda adalah sekutu dekat, di sisi lain Amerika pun tengah berusaha menggandeng Indonesia. Akhirnya, Kennedy menekan Belanda di belakang layar untuk mundur dari Irian Barat. Mundurnya Belanda membuat perjanjian kerjasama Freeport dengan East Borneo Company mentah kembali.

Berdasarkan penyerahan Papua ke Indonesia oleh Untea, maka niat Amerika untuk ambil emas Papua semakin mulus. Amerika tidak lama menunggu, lima tahun kemudian tepatnya 1967 Amerika dan Indonesia menandatangani kontrak ambil emas di Papua. ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss, dan didektekan oleh Rockefeller, disahkan tahun 1967. Tentu untuk kedua kalinya orang Papua tidak dilibatkan lagi. Padahal areal operasi tambang ini di Papua.

Konsekuensi  kontrak kerja antara Amerika dan Indonesia akhirnya Act of Free Choice atau Penentuan Pendapat Rakyat Papua ( Pepera) terjadi semacam simbolis untuk mempertegas kontrak yang sudah terjadi dua tahun sebelum pelaksanaan Pepera tahun 1969.

Melihat skenario balas jasa antara Indonesia dan Amerika yang mengabaikan keterlibatan Orang Papua maka orang Papua hendak menggugat sejarah Pepera yang menjadi simbolis penyerahan secara resmi dari Untea ke Indonesia.
Adalah International Lawyer for West Papua (ILWP) di London, Inggris juga adanya  peluncuran Parlemen Internasional untuk Papua Barat Australia-Pasifik adalah upaya untuk mempersoalkan scenario penyerahan Papua ke Indonesia.

Dukungan bahwa 1 mei 1962 tak demokratis dating dari Eni F.H. Faleomavaega dan Donald Payne, Anggota Kongres Amerika. Pada 14 Februari 2008, telah  melayangkan surat kepada Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki-Moon,   “…Referendum (PEPERA 1969) bagi orang  Papua tidak pernah dilaksanakan.

Sebelumnya Pada 19 Juli 2002 silam,   34 Anggota Parlemen Uni Eropa menyerukan kepada Komisi dan Parlemen Uni Eropa untuk mendesak Sekjen   PBB, Kofi Annan, dengan pernyataan sebagai berikkut:  “PEPERA 1969 lebih daripada lelucon. Jumlah 1.025 orang Papua, semuanya dipilih oleh penguasa Indonesia yang diijinkan untuk menyuarakan dengan menyatakan tidak ada pengawasan PBB, masa depan orang-orang Papua Barat 800.000 penduduk asli, mereka serentak bersuara tinggal dengan Indonesia.

Pada 31 Januari 1996, Parlemen Irlandia mengeluarkan resolusi tentang West Papua. Bunyi resolusi sebagai berikut. “Ketidakjujuran pelaksanaan PEPERA 1969 sebagai pernyataan yang tidak murni dalam penentuan nasib sendiri orang-orang. Maka Parlemen Irlandia menyerukan kepada Pemerintah Irlandia meminta kepada PBB untuk menyelidiki pelaksanaan PEPERA yang menindas dan mengkhianati hak-hak asasi manusia dan mempertanyakan pengabsahan PEPERA 1969.

Menaggapi adanya upaya  mempertanyakan sejarah 1 mei 1962 silam,  Satu pelaku peserta pelaksanaan Pepera, Ramses Ohe berpendapat Pepera Tahun 1969 tidak bisa diganggu gugat lagi. Bisa saja diperdebatkan proses 1 Mei 1962 dan dapat  dibawa ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), namun ingat boleh  yang membawa harus sebuah Negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Papua bukan sebuah Negara anggota PBB.

Saat ini Papua telah menjadi bagian Pemerintah Indonesia sejak 1969 sehingga orang Papua perlu dilibatkan dalam berbagai kebijakan Negara untuk pembangunan Papua karena sejak Papua masih dalam Pemerintah Belanda misalnya Konfrensi Meja Bundar dan Perjanjian New York, Papua dalam pemerintahan orde Lama, Orde Baru, Orde reformasih seperti undang-undang Otonomi Khusus hingga kini adanya kebijakan Unit Percepatan Pembangunan Papua (UP4B)  terus tidak melibat orang Papua.

Jika Pemerintah dalam mengambil kebijakannya selalu terus tidak melibatkan orang Papua  maka tentu penolakan orang Papua terhadap kebijakan Negara serta orang Papua tidak merasakan bagian dari Indonesia terus akan ada.

Oleh: John Pakage (Facebook)

Arnold C. Ap dan Group Mambesak, Penabur Spirit Nasionalisme Dari Panggung Budaya

Unknown | 10.02 | 0 komentar
Arnol Clemens Ap
untuk membangkitkan budaya orang Papua terhadap pengaruh budaya luar. Dengan kesadaran bahwa budaya Papua merupakan identitas orang Papua, namun semakin terkikis. Dan kalau tidak cepat ditangani, nilai-nilai khas yang menjadi ciri ke-Papua-an lama kelamaan akan punah. Melalui group ini, Arnold Ap, Sam Kapissa (Alm) dan Demianus Wariap Kurni juga aktif di Gereja Harapan Abepura, memetik gitar dan menyanyikan lagu-lagu rohani. Untuk itu, mereka pun mengarang berbagai lagu rohani dalam bahasa Byak-Numfor. Bahkan di tahun 1972 Arnold Ap dan Sam Kapissa tergerak untuk membuat liturgi Gereja Kristen Injili (GKI) di Irian Jaya sesuai budaya Papua, dengan menggunakan musik dan lagu-lagu Papua, diiringi alat musik seperti gitar, jukulele dan tifa.

Dalam waktu tidak lama, gerakan pribuminisasi music liturgy dalam gereja ini mulai diterima oleh pimpinan GKI.Almarhum Arnold Clemens Ap, BA  adalah salah satu tokoh besar Papua yang berperan bagi lahirnya group Mambesak yang legendaris itu dan budayawan yang autentik. Dia dilahirkan di pulau Numfor pada 1 Juli 1945, anak kedua dari lima anak yang dilahirkan oleh Meljanus Ap dan Alexandrina Ap-Mofu. Arnold Ap mulai menempuh pendidikan di Jorgens Vervolg School (setingkat sekolah dasar) di Waupnor-Byak, lalu lanjut ke SMP dan SMA juga di kota Byak. Setamatnya dari SMA, Ia melanjutkan studi  pada lembaga Antropologi Universitas Cenderawasih (Uncen) di Jayapura, dengan spesialisasi mengenai masyarakat Papua. Salah seorang pembimbingnya adalah Dr. Malcolm Walker, warga Australia yang ditugaskan UNESCO. Seperti ditulis Osborne, Walker mengajari Ap dalam bidang teknis dan berpendapat bahwa Ap adalah “orang yang baik dan berprinsip.”

Saat berkarya melalui lagu rohani itu, Kurator ini  sudah bertugas sebagai Kepala Museum Antropologi Uncen, museum yang waktu itu menjadi basis pengembangan seni dan budaya Papua. Ia berperan  besar mencari dana untuk mengumpulkan benda-benda budaya masyarakat Papua. Putra Numfor ini kemudian mempersunting Corry Ap-Bukorpioper dan menikah di Jayapura pada 5 Oktober 1974 dan mereka dikaruniai empat anak laki-laki: Oridek, Mambri, Erisam dan Mansorak.

Group Mambesak dibentuk oleh Arnold Ap dan kawan-kawannya di tahun 1978. Mambesak adalah nama burung Cenderawasih dalam bahasa Byak dan waktu itu Arnold lah yang mengusulkannya untuk dipakai sebagai nama group. Anggota group akhirnya menerima, sebab dianggap akan lebih populer di masyarakat Papua dibanding Manyori yang hanya sebagai burung suci bagi orang Biak-Numfor saja. Selain itu, dalam strata bahasa Byak yang lebih tinggi, Mambesak juga disebut Mambefor yakni burung yang bercahaya, suci, indah dan kicauannya sangat  membahana. Dimana karena kelebihannya itu, burung ini sangat menarik perhatian untuk diburu dan ditangkap sebagi hadiah bagi para bangsawan (pada masa lalu) atau orang-orang penting di Jakarta dimasa kekinian. Dalam pemaknaannya, burung ini dipandang sebagai perlambang bagi insan Papua yang selalu berbicara lantang tentang ketidakadilan bagi orang Papua, karena kelantangannya berbicara akan membuat dirinya juga bernasib sama dengan burung ini, dia akan diburuh dan dibunuh untuk memuaskan Jakarta.
Setelah terbentuk, kelompok ini berusaha mendokumentasi seluruh tradisi rakyat Papua dengan mengunjungi berbagai tempat di Papua, merekam lagu-lagu rakyat dan membuat katalognya, juga sering merekamnya kembali. Sejalan dengan itu, Arnold Ap dan Sam Kapissa mulai lebih banyak merangkul orang muda dari berbagai suku di Papua. Diantaranya Marthiny Sawaki, Max Werimon, Selviana Samber, Terry Djopari, Thony Wolas Krenak, William Kiryak dan masih banyak yang lain. Tanggal 23 Agustus 1978 anggota group ini berkumpul untuk membentuk kepengurusan. Saat itu Arnold Ap dipilih sebagai pimpinan group, Marthen Sawaki sebagai wakil, Yoel Kapissa sebagai sekretaris, Sam Kapissa sebagai penanggungjawab musik, Thony Karenak sebagai penanggungjawab tari dan yang menangani teater adalah Demi Wariap Kurni (sekarang bermukim di Belanda). Setelah itu, pentas perdana diadakan di Genyem atas undangan Bapak Mikha Manufandu, Camat Nimboran waktu itu. Moment penampilan perdana pada 5 Oktober 1978 itu akhirnya ditetapkan sebagai hari terbentuknya group Mambesak.
Anggota group kemudian bersepakat untuk secara rutin menampilkan lagu-lagu dan tari-tarian rakyat Papua hasil galian mereka dalam pentas hiburan rakyat, di depan Lingkaran Abepura. Pada tanggal 17 Agustus 1978 mereka tampil di aula Uncen di Abepura dalam acara resmi pemerintah dan sejak itu Mambesak berulangkali menyayi dan  menari di halaman Museum Uncen. Itu sebabnya dulu Museum Uncen dikenal dengan sebutan “istananya Mambesak.” Dimana halaman Museum (Loka Budaya) Uncen dijadikan sebagai semacam pusat aktifitas seni-budaya. Setiap hari, selepas senja, masyarakat berkumpul di situ menyaksikan group ini menanpilkan lagu-lagu dan cerita rakyat yang diselingi dengan mop (cerita lucu). Seiring dengan itu, Arnold Ap pernah berpesan kepada kawan-kawannya untuk semaksimal mungkin menggunakan media (sarana) yang ada, menjangkau masyarakat sampai di  pelosok-pelosok tanah ini.
Sejak November 1978, atas usulan Ignatius Suharyo, ketua lembaga Antropologi Uncen waktu itu, Arnold Ap diangkat sebagai penanggungjawab siaran Pelangi Budaya (PB) dan Pancaran Sastra (PS) pada RRI Studio Nusantara V Jayapura, dimana program ini berjalan selama lima tahun. Arnold Ap dan kawan-kawan anggota groupnya secara resmi membawa nama lembaga Antropologi Uncen melalui program siaran radio tersebut. Mambesak menjadi semakin terkenal, berhasil manggali dan memperkenalkan budaya masyarakat Papua. Sebagian besar masyarakat Papua di tanah ini bahkan telah hafal benar jadwal siaran mingguan program tersebut.
Dalam festifal seni tari se-Papua yang diselenggarakan di Jayapura pada tahun 1978, dari 35 kelompok yang ikut saat itu, Mambesak lah yang mendapat juara pertama, lalu mewakili Papua ke event tingkat Indonesia  dan keluar sebagai juara faforit. Di tahun berikutnya group ini kembali mewakili Papua mengikuti pekan tari tingkat nasional Indonesia yang ketiga, dan tiga kali berturut-turut menjuarai festifal di Jayapura.
Nama Arnold Ap dan Mambesak semakin dikenal sampai ke dunia luar, sebagai group dan orang-orang Papua yang setia pada kebudayaan dan tanah kelahirannya. Rekaman lagu-lagu Mambesak laku dibeli banyak orang dari berbagai kalangan. Mereka juga  dikenal karena ukiran batik, pahatan patung dan lainnya. Saat ada kunjungan pejabat pemerintah dari Jakarta ke Papua, group Mambesak selalu diundang untuk menampilkan lagu dan tari-tarian. Sebut saja saat kedatangan Menteri P & K Nugroho Notosusanto dan Ny Benny Murdani mengantarkan istri-istri atase militer dari 11 negara sahabat untuk mengunjungi Museum Uncen tanggal 11 November 1984.
Seperti sudah disinggung sebelumnya, tujuan dibentuknya group Mambesak yang dipelopori Arnold Ap adalah upaya mempertahankan budaya asli Papua. Ini merupakan bentuk reaksi membentengi kebudayaan Papua atas kesimpulan bahwa cara kerja aparat resmi yang lebih mempromosikan dan mendominasikan seni-budaya dari luar Papua. Misalnya, Ap menilai bahwa “tari kreasi baru” yang mulai dipopulerkan di Papua pada waktu itu, sama sekali tidak berakar pada tari-tari rakyat Papua. Lagu-lagu popular Papua yang marak dinyanyikan secara diatonis dengan suara 1-2-3 pun dinilainya bertentangan dengan lagu-lagu asli Papua yang dinyanyikan oleh rakyat dengan suara minor.
Dikalangan rakyat Papua, group Mambesak dipandang sebagai barisan terdepan dalam usaha mempertahankan kebudayaan rakyat. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa kemunculan Mambesak telah memainkan sentimen persatuan dan  nasionalisme orang Papua. Kemunculannya  telah menjadi inspirasi bagi tiap daerah di Papua untuk berani menampilkan lagu dan tarian asli. Istana Mambesak menjadi tempat dimana banyak group Papua lainnya menampilkan lagu dan tari daerahnya dan kemudian didokumentasikan. Hal ini juga berpengaruh bagi munculnya banyak group lagu dan tari Papua dengan ciri khasnya masing-masing.
Oleh sebagian kalangan orang Papua, Arnold Ap bahkan kemudian dijuluki sebagai “Konor” atau semacam nabi orang Papua pada zamannya. Sebab Arnold Ap adalah seseorang yang dapat bermain gitar, menari, menyanyi sekaligus dapat melukis. Ia juga dipercaya telah melihat jauh ke depan tentang cita-cita nasionalisme rakyat Papua dalam politik Indonesia secara keseluruhan. Ap juga sempat bertemu dengan berbagai aktivis hak asasi manusia dalam kunjungannya ke Jakarta, dimana mereka yang ditemuinya itu sebagian besar diantaranya adalah orang-orang yang anti-Soeharto. Mereka mengagumi Ap dan mempercayai bahwa   Ap adalah dinamisator perubahan di Papua.
Disisi lain, meski pihak penguasa Indonesia mengakui pengaruh luas serta ketenaran Arnold Ap dan kawan-kawannya melalui group Mambesak. Ternyata, diam-diam mereka menyimpan kekhawatiran. Secara sepintas tekanan dari penguasa tampaknya memang berpengaruh besar terhadap diri Ap. Akhirnya pada tanggal 26 April 1984 Arnold Ap dibunuh setelah rekan satu groupnya, Eduard Mofu dibunuh empat hari sebelumnya (22 April). Berdasarkan hasil pemeriksaan diduga mereka dibunuh dengan cara disiksa sebelumnya lalu kemudian ditembak dan ditenggelamkan. Beberapa hari kemudian tubuhnya  diketemukan terapung tak bernyawa di pantai Base G.
Kematian Arnold Ap dan rekannya ini merupakan  gambaran represifitas dan kekejaman terhadap masyarakat Papua pada masa itu. Penguasa telah membatasi ruang gerak kebudayaan Papua dengan membunuh budayawan progresif Papua hanya karena mereka dianggap menghidupkan semangat nasionalisme Papua. Nasib Ap, Mofu dan personil lainnya ibarat seekor Mambefor. (Manwen)

Inspirasi Perjuangan Black Brothers

Unknown | 09.55 | 0 komentar
Group Black Brothers
GRUB BAND BLACK BROTHERS
Sewaktu pergerakan perlawanan dibawah tanah (dalam kota) yang diprakasai oleh budayawan Alm. Arnold Ap, para  seniman sering berbicara sekitar pembangunan jiwa nasionalisme Papua atas generasi muda Papua. Dari sana lahirlah kedua icon perjuangan Papua, yaitu MAMBESAK dan BLACK BROTHERS. Setelah kegiatan-kegiatan  kedua group music mulai tercium oleh intelejen penjajah, maka Black Brothers ditugaskan oleh Markas Victoria dibawah pimpinan Jendral Seth J.  Rumkorem untuk menyelundupkan kedua pelaku sejarah, yaitu Alm Bpk Eliezer Yan Bonay, dan Alm. Dirk Samuel Ayamiseba, masing-masing selaku Gubernur pertama dan Ketua DPRD-GR pertama. Mereka bersama group band itu menyelamatkan diri ke luar negeri, dan lebih banyak mengambil  bagian dalam Gerakan Papua Merdeka. Dalam pengasingan di Belanda, OPM menugaskan Black Brothers utuk membangun basisnya di Vanuatu bersama Rex Rumakiek. Mereka telah berhasil membangun basis dan telah  didirikan sejak  tahun 1983 sampai dengan hari ini.  Black Brothers juga punya asumbansi dalam memberikan dukungan lewat music untuk mendirikan negara Vanuatu.
Black Brothers , Group Band Inspirator
Lirik lagu-lagu itu  terus mengalir dan terkenang di hati rakyat Papua sampai kini. Melodinya yang manis, filosofis, dan harmonis,  adalah ciri khas dan gaya tersendiri. Black Brothers juga mengunakan instrumen tiup (brass-wind instrument) sehingga lebih berwarna selain itu dari sisi suara Ada vokalis utama, pemusik lain  ikut membentuk suara latar. Itulah keunikan sehingga banyak orang Indonesia bahkan manca negara mengagumi. BB sangat unik dan senang didengarkan karena mereka memainkan banyak aliran music yakni; beraliran pop, rock, funky blues, Jaz, Reggae dan juga keroncong. Black Brothers layak dicatat di buku sejarah musik pop Indonesia. Sewaktu mereka berada di luar, mereka juga menyanyikan banyak lagu lirik dan nada dapat  ditiru oleh artis lainya.
 Penyanyi-penyanyi yang dihuni oleh orang-orang dari timur (manado, Ambon dan Papua) yang melandaskan gaya perjuangan baru dan mengharumkan nama Papua itu telah hilang satu persatu. Ada yang termakan usia,  sakit dan juga karena dibunuh secara halus. Mereka adalah Hengky Sumanti Miratoneng, salah satu yang mendirikan Black Brothers pada tahun 1975 bersama Yohi Patipeiluhu (keyboard), Stevy Mambor (drummer), Amrey Kaha (saxophone), Agus Rumaropen (guitaris), Benny Betay (bassis).
Black Brothers adalah salah satu Group inspirator yang hidup dan menunjukan jati diri Bangsa Papua namun saat ini mejadi angan-angan bagi setiap musisi di Papua yang tidak mampu menciptakan dan melanjutkan perjuangan yang dilakukan Black Brothers.  Banyak musisi saat ini yang terjebak dengan Programer Keyboard yang sangat miskin kreatifitas yang menciptakan individualismes dan sangat jauh dari kwalitas group music. Padahal musik adalah napas dalam jiwa yang terekam melalui panca indra yang kemudian di latunkan dalam sebuah syair dan instrument (makna filosofis). BB Mampu menerjemahkan jiwa dan napas bangsa Papua yang di masa tahun 1970-an di jajah melalui praktek kekuasaan Negara yang kejam melalui kebijakan-kebijakan yang beraroma Militerisme. Banyak makna dari setiap lirik   BB yang  menceritakan kebebasan, keadilan, dan kemanusian.
Perkembangan peradaban Musik merupakan ukuran suatu bangsa dalam melihat perkembangan masyarakat. Papua saat ini mengalami degradasi ( kemunduran ) kreativitas seni musik yang bisa di katakan parah, karena minimnya regenerasi. BB Cuma dijadikan sejarah dan cerita dari masa ke masa, namun tidak menjadi inspirasi bagi generasi Papua saat ini untuk membuat banyak group musik yang lebih hebat dari masa BB dulu. Inilah titik kemunduran generasi saat ini, banyak group musik yang muncul tetapi tidak mampu menciptakan performa musik sesuai dengan perkembangan budaya dan Zaman. Munculnya komunitas-komunitas musik baik tradisional maupun yang modern saat ini  cenderung lebih meniru budaya bangsa lain( pemahaman sempit dalam meniru jenis/ aliran musik tertentu sperti;reggae, jazz, pop, blues, dll)
Minimnya ruang-ruang yang diciptakan oleh pencinta seni musik merupakan salah satu faktor terhambatnya kebangkitan peradaban musik di tanah Papua saat ini. Strategi membangun seni musik dalam sebuah Group band adalah kesadaran membangun suatu organisasi yang mempunyai program dan menghargai setiap individu yang ada didalamnya. Program tersebut lahir dari peradaban budaya dan perilaku perkembangan masyarakat Papua saat ini, sehingga akan muncul  ide-ide kreatif dalam membuat syair/lirik dan menentukan jenis musik sehingga musk tersebut memiliki jiwa yang memberikan pesan-pesan kepada generasi berikut. BB dimasanya mampu menemukan bentuknya, Bagaimana dengan generasi saat ini?! (Saren & Nasta)

Sumber:http://wenebuletin.wordpress.com/

Share Button
 
Media Merdeka : KNPB NEWS | AMP Jogja | NRPB
Copyright © 2011. YANG TERLUPAKAN - All Rights Reserved
© Copyright 2014 Papua Merdeka
Proudly powered by Blogger