Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN TOKOH-TOKOH DUNIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN TOKOH-TOKOH DUNIA. Tampilkan semua postingan

Arnold C. Ap dan Group Mambesak, Penabur Spirit Nasionalisme Dari Panggung Budaya

Unknown | 10.02 | 0 komentar
Arnol Clemens Ap
untuk membangkitkan budaya orang Papua terhadap pengaruh budaya luar. Dengan kesadaran bahwa budaya Papua merupakan identitas orang Papua, namun semakin terkikis. Dan kalau tidak cepat ditangani, nilai-nilai khas yang menjadi ciri ke-Papua-an lama kelamaan akan punah. Melalui group ini, Arnold Ap, Sam Kapissa (Alm) dan Demianus Wariap Kurni juga aktif di Gereja Harapan Abepura, memetik gitar dan menyanyikan lagu-lagu rohani. Untuk itu, mereka pun mengarang berbagai lagu rohani dalam bahasa Byak-Numfor. Bahkan di tahun 1972 Arnold Ap dan Sam Kapissa tergerak untuk membuat liturgi Gereja Kristen Injili (GKI) di Irian Jaya sesuai budaya Papua, dengan menggunakan musik dan lagu-lagu Papua, diiringi alat musik seperti gitar, jukulele dan tifa.

Dalam waktu tidak lama, gerakan pribuminisasi music liturgy dalam gereja ini mulai diterima oleh pimpinan GKI.Almarhum Arnold Clemens Ap, BA  adalah salah satu tokoh besar Papua yang berperan bagi lahirnya group Mambesak yang legendaris itu dan budayawan yang autentik. Dia dilahirkan di pulau Numfor pada 1 Juli 1945, anak kedua dari lima anak yang dilahirkan oleh Meljanus Ap dan Alexandrina Ap-Mofu. Arnold Ap mulai menempuh pendidikan di Jorgens Vervolg School (setingkat sekolah dasar) di Waupnor-Byak, lalu lanjut ke SMP dan SMA juga di kota Byak. Setamatnya dari SMA, Ia melanjutkan studi  pada lembaga Antropologi Universitas Cenderawasih (Uncen) di Jayapura, dengan spesialisasi mengenai masyarakat Papua. Salah seorang pembimbingnya adalah Dr. Malcolm Walker, warga Australia yang ditugaskan UNESCO. Seperti ditulis Osborne, Walker mengajari Ap dalam bidang teknis dan berpendapat bahwa Ap adalah “orang yang baik dan berprinsip.”

Saat berkarya melalui lagu rohani itu, Kurator ini  sudah bertugas sebagai Kepala Museum Antropologi Uncen, museum yang waktu itu menjadi basis pengembangan seni dan budaya Papua. Ia berperan  besar mencari dana untuk mengumpulkan benda-benda budaya masyarakat Papua. Putra Numfor ini kemudian mempersunting Corry Ap-Bukorpioper dan menikah di Jayapura pada 5 Oktober 1974 dan mereka dikaruniai empat anak laki-laki: Oridek, Mambri, Erisam dan Mansorak.

Group Mambesak dibentuk oleh Arnold Ap dan kawan-kawannya di tahun 1978. Mambesak adalah nama burung Cenderawasih dalam bahasa Byak dan waktu itu Arnold lah yang mengusulkannya untuk dipakai sebagai nama group. Anggota group akhirnya menerima, sebab dianggap akan lebih populer di masyarakat Papua dibanding Manyori yang hanya sebagai burung suci bagi orang Biak-Numfor saja. Selain itu, dalam strata bahasa Byak yang lebih tinggi, Mambesak juga disebut Mambefor yakni burung yang bercahaya, suci, indah dan kicauannya sangat  membahana. Dimana karena kelebihannya itu, burung ini sangat menarik perhatian untuk diburu dan ditangkap sebagi hadiah bagi para bangsawan (pada masa lalu) atau orang-orang penting di Jakarta dimasa kekinian. Dalam pemaknaannya, burung ini dipandang sebagai perlambang bagi insan Papua yang selalu berbicara lantang tentang ketidakadilan bagi orang Papua, karena kelantangannya berbicara akan membuat dirinya juga bernasib sama dengan burung ini, dia akan diburuh dan dibunuh untuk memuaskan Jakarta.
Setelah terbentuk, kelompok ini berusaha mendokumentasi seluruh tradisi rakyat Papua dengan mengunjungi berbagai tempat di Papua, merekam lagu-lagu rakyat dan membuat katalognya, juga sering merekamnya kembali. Sejalan dengan itu, Arnold Ap dan Sam Kapissa mulai lebih banyak merangkul orang muda dari berbagai suku di Papua. Diantaranya Marthiny Sawaki, Max Werimon, Selviana Samber, Terry Djopari, Thony Wolas Krenak, William Kiryak dan masih banyak yang lain. Tanggal 23 Agustus 1978 anggota group ini berkumpul untuk membentuk kepengurusan. Saat itu Arnold Ap dipilih sebagai pimpinan group, Marthen Sawaki sebagai wakil, Yoel Kapissa sebagai sekretaris, Sam Kapissa sebagai penanggungjawab musik, Thony Karenak sebagai penanggungjawab tari dan yang menangani teater adalah Demi Wariap Kurni (sekarang bermukim di Belanda). Setelah itu, pentas perdana diadakan di Genyem atas undangan Bapak Mikha Manufandu, Camat Nimboran waktu itu. Moment penampilan perdana pada 5 Oktober 1978 itu akhirnya ditetapkan sebagai hari terbentuknya group Mambesak.
Anggota group kemudian bersepakat untuk secara rutin menampilkan lagu-lagu dan tari-tarian rakyat Papua hasil galian mereka dalam pentas hiburan rakyat, di depan Lingkaran Abepura. Pada tanggal 17 Agustus 1978 mereka tampil di aula Uncen di Abepura dalam acara resmi pemerintah dan sejak itu Mambesak berulangkali menyayi dan  menari di halaman Museum Uncen. Itu sebabnya dulu Museum Uncen dikenal dengan sebutan “istananya Mambesak.” Dimana halaman Museum (Loka Budaya) Uncen dijadikan sebagai semacam pusat aktifitas seni-budaya. Setiap hari, selepas senja, masyarakat berkumpul di situ menyaksikan group ini menanpilkan lagu-lagu dan cerita rakyat yang diselingi dengan mop (cerita lucu). Seiring dengan itu, Arnold Ap pernah berpesan kepada kawan-kawannya untuk semaksimal mungkin menggunakan media (sarana) yang ada, menjangkau masyarakat sampai di  pelosok-pelosok tanah ini.
Sejak November 1978, atas usulan Ignatius Suharyo, ketua lembaga Antropologi Uncen waktu itu, Arnold Ap diangkat sebagai penanggungjawab siaran Pelangi Budaya (PB) dan Pancaran Sastra (PS) pada RRI Studio Nusantara V Jayapura, dimana program ini berjalan selama lima tahun. Arnold Ap dan kawan-kawan anggota groupnya secara resmi membawa nama lembaga Antropologi Uncen melalui program siaran radio tersebut. Mambesak menjadi semakin terkenal, berhasil manggali dan memperkenalkan budaya masyarakat Papua. Sebagian besar masyarakat Papua di tanah ini bahkan telah hafal benar jadwal siaran mingguan program tersebut.
Dalam festifal seni tari se-Papua yang diselenggarakan di Jayapura pada tahun 1978, dari 35 kelompok yang ikut saat itu, Mambesak lah yang mendapat juara pertama, lalu mewakili Papua ke event tingkat Indonesia  dan keluar sebagai juara faforit. Di tahun berikutnya group ini kembali mewakili Papua mengikuti pekan tari tingkat nasional Indonesia yang ketiga, dan tiga kali berturut-turut menjuarai festifal di Jayapura.
Nama Arnold Ap dan Mambesak semakin dikenal sampai ke dunia luar, sebagai group dan orang-orang Papua yang setia pada kebudayaan dan tanah kelahirannya. Rekaman lagu-lagu Mambesak laku dibeli banyak orang dari berbagai kalangan. Mereka juga  dikenal karena ukiran batik, pahatan patung dan lainnya. Saat ada kunjungan pejabat pemerintah dari Jakarta ke Papua, group Mambesak selalu diundang untuk menampilkan lagu dan tari-tarian. Sebut saja saat kedatangan Menteri P & K Nugroho Notosusanto dan Ny Benny Murdani mengantarkan istri-istri atase militer dari 11 negara sahabat untuk mengunjungi Museum Uncen tanggal 11 November 1984.
Seperti sudah disinggung sebelumnya, tujuan dibentuknya group Mambesak yang dipelopori Arnold Ap adalah upaya mempertahankan budaya asli Papua. Ini merupakan bentuk reaksi membentengi kebudayaan Papua atas kesimpulan bahwa cara kerja aparat resmi yang lebih mempromosikan dan mendominasikan seni-budaya dari luar Papua. Misalnya, Ap menilai bahwa “tari kreasi baru” yang mulai dipopulerkan di Papua pada waktu itu, sama sekali tidak berakar pada tari-tari rakyat Papua. Lagu-lagu popular Papua yang marak dinyanyikan secara diatonis dengan suara 1-2-3 pun dinilainya bertentangan dengan lagu-lagu asli Papua yang dinyanyikan oleh rakyat dengan suara minor.
Dikalangan rakyat Papua, group Mambesak dipandang sebagai barisan terdepan dalam usaha mempertahankan kebudayaan rakyat. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa kemunculan Mambesak telah memainkan sentimen persatuan dan  nasionalisme orang Papua. Kemunculannya  telah menjadi inspirasi bagi tiap daerah di Papua untuk berani menampilkan lagu dan tarian asli. Istana Mambesak menjadi tempat dimana banyak group Papua lainnya menampilkan lagu dan tari daerahnya dan kemudian didokumentasikan. Hal ini juga berpengaruh bagi munculnya banyak group lagu dan tari Papua dengan ciri khasnya masing-masing.
Oleh sebagian kalangan orang Papua, Arnold Ap bahkan kemudian dijuluki sebagai “Konor” atau semacam nabi orang Papua pada zamannya. Sebab Arnold Ap adalah seseorang yang dapat bermain gitar, menari, menyanyi sekaligus dapat melukis. Ia juga dipercaya telah melihat jauh ke depan tentang cita-cita nasionalisme rakyat Papua dalam politik Indonesia secara keseluruhan. Ap juga sempat bertemu dengan berbagai aktivis hak asasi manusia dalam kunjungannya ke Jakarta, dimana mereka yang ditemuinya itu sebagian besar diantaranya adalah orang-orang yang anti-Soeharto. Mereka mengagumi Ap dan mempercayai bahwa   Ap adalah dinamisator perubahan di Papua.
Disisi lain, meski pihak penguasa Indonesia mengakui pengaruh luas serta ketenaran Arnold Ap dan kawan-kawannya melalui group Mambesak. Ternyata, diam-diam mereka menyimpan kekhawatiran. Secara sepintas tekanan dari penguasa tampaknya memang berpengaruh besar terhadap diri Ap. Akhirnya pada tanggal 26 April 1984 Arnold Ap dibunuh setelah rekan satu groupnya, Eduard Mofu dibunuh empat hari sebelumnya (22 April). Berdasarkan hasil pemeriksaan diduga mereka dibunuh dengan cara disiksa sebelumnya lalu kemudian ditembak dan ditenggelamkan. Beberapa hari kemudian tubuhnya  diketemukan terapung tak bernyawa di pantai Base G.
Kematian Arnold Ap dan rekannya ini merupakan  gambaran represifitas dan kekejaman terhadap masyarakat Papua pada masa itu. Penguasa telah membatasi ruang gerak kebudayaan Papua dengan membunuh budayawan progresif Papua hanya karena mereka dianggap menghidupkan semangat nasionalisme Papua. Nasib Ap, Mofu dan personil lainnya ibarat seekor Mambefor. (Manwen)

Inspirasi Perjuangan Black Brothers

Unknown | 09.55 | 0 komentar
Group Black Brothers
GRUB BAND BLACK BROTHERS
Sewaktu pergerakan perlawanan dibawah tanah (dalam kota) yang diprakasai oleh budayawan Alm. Arnold Ap, para  seniman sering berbicara sekitar pembangunan jiwa nasionalisme Papua atas generasi muda Papua. Dari sana lahirlah kedua icon perjuangan Papua, yaitu MAMBESAK dan BLACK BROTHERS. Setelah kegiatan-kegiatan  kedua group music mulai tercium oleh intelejen penjajah, maka Black Brothers ditugaskan oleh Markas Victoria dibawah pimpinan Jendral Seth J.  Rumkorem untuk menyelundupkan kedua pelaku sejarah, yaitu Alm Bpk Eliezer Yan Bonay, dan Alm. Dirk Samuel Ayamiseba, masing-masing selaku Gubernur pertama dan Ketua DPRD-GR pertama. Mereka bersama group band itu menyelamatkan diri ke luar negeri, dan lebih banyak mengambil  bagian dalam Gerakan Papua Merdeka. Dalam pengasingan di Belanda, OPM menugaskan Black Brothers utuk membangun basisnya di Vanuatu bersama Rex Rumakiek. Mereka telah berhasil membangun basis dan telah  didirikan sejak  tahun 1983 sampai dengan hari ini.  Black Brothers juga punya asumbansi dalam memberikan dukungan lewat music untuk mendirikan negara Vanuatu.
Black Brothers , Group Band Inspirator
Lirik lagu-lagu itu  terus mengalir dan terkenang di hati rakyat Papua sampai kini. Melodinya yang manis, filosofis, dan harmonis,  adalah ciri khas dan gaya tersendiri. Black Brothers juga mengunakan instrumen tiup (brass-wind instrument) sehingga lebih berwarna selain itu dari sisi suara Ada vokalis utama, pemusik lain  ikut membentuk suara latar. Itulah keunikan sehingga banyak orang Indonesia bahkan manca negara mengagumi. BB sangat unik dan senang didengarkan karena mereka memainkan banyak aliran music yakni; beraliran pop, rock, funky blues, Jaz, Reggae dan juga keroncong. Black Brothers layak dicatat di buku sejarah musik pop Indonesia. Sewaktu mereka berada di luar, mereka juga menyanyikan banyak lagu lirik dan nada dapat  ditiru oleh artis lainya.
 Penyanyi-penyanyi yang dihuni oleh orang-orang dari timur (manado, Ambon dan Papua) yang melandaskan gaya perjuangan baru dan mengharumkan nama Papua itu telah hilang satu persatu. Ada yang termakan usia,  sakit dan juga karena dibunuh secara halus. Mereka adalah Hengky Sumanti Miratoneng, salah satu yang mendirikan Black Brothers pada tahun 1975 bersama Yohi Patipeiluhu (keyboard), Stevy Mambor (drummer), Amrey Kaha (saxophone), Agus Rumaropen (guitaris), Benny Betay (bassis).
Black Brothers adalah salah satu Group inspirator yang hidup dan menunjukan jati diri Bangsa Papua namun saat ini mejadi angan-angan bagi setiap musisi di Papua yang tidak mampu menciptakan dan melanjutkan perjuangan yang dilakukan Black Brothers.  Banyak musisi saat ini yang terjebak dengan Programer Keyboard yang sangat miskin kreatifitas yang menciptakan individualismes dan sangat jauh dari kwalitas group music. Padahal musik adalah napas dalam jiwa yang terekam melalui panca indra yang kemudian di latunkan dalam sebuah syair dan instrument (makna filosofis). BB Mampu menerjemahkan jiwa dan napas bangsa Papua yang di masa tahun 1970-an di jajah melalui praktek kekuasaan Negara yang kejam melalui kebijakan-kebijakan yang beraroma Militerisme. Banyak makna dari setiap lirik   BB yang  menceritakan kebebasan, keadilan, dan kemanusian.
Perkembangan peradaban Musik merupakan ukuran suatu bangsa dalam melihat perkembangan masyarakat. Papua saat ini mengalami degradasi ( kemunduran ) kreativitas seni musik yang bisa di katakan parah, karena minimnya regenerasi. BB Cuma dijadikan sejarah dan cerita dari masa ke masa, namun tidak menjadi inspirasi bagi generasi Papua saat ini untuk membuat banyak group musik yang lebih hebat dari masa BB dulu. Inilah titik kemunduran generasi saat ini, banyak group musik yang muncul tetapi tidak mampu menciptakan performa musik sesuai dengan perkembangan budaya dan Zaman. Munculnya komunitas-komunitas musik baik tradisional maupun yang modern saat ini  cenderung lebih meniru budaya bangsa lain( pemahaman sempit dalam meniru jenis/ aliran musik tertentu sperti;reggae, jazz, pop, blues, dll)
Minimnya ruang-ruang yang diciptakan oleh pencinta seni musik merupakan salah satu faktor terhambatnya kebangkitan peradaban musik di tanah Papua saat ini. Strategi membangun seni musik dalam sebuah Group band adalah kesadaran membangun suatu organisasi yang mempunyai program dan menghargai setiap individu yang ada didalamnya. Program tersebut lahir dari peradaban budaya dan perilaku perkembangan masyarakat Papua saat ini, sehingga akan muncul  ide-ide kreatif dalam membuat syair/lirik dan menentukan jenis musik sehingga musk tersebut memiliki jiwa yang memberikan pesan-pesan kepada generasi berikut. BB dimasanya mampu menemukan bentuknya, Bagaimana dengan generasi saat ini?! (Saren & Nasta)

Sumber:http://wenebuletin.wordpress.com/

Uskup dan Presiden Bagi Rakyat Miskin Tertindas

Unknown | 09.48 | 0 komentar
Fernando Armindo Lugo Méndez, Seorang Uskup yang kini menjadi Presiden bagi rakyat miskin Paraguay yang tertindas.   TEOLOGI Pembebasan  adalah sebuah dogma gereja yang mengajarkan tentang kemerdekaan sejati. Ini mengenai suatu indeologi tentang kemerdekaan yang diberikan Allah dan merupakan  rahasia satu-satunya kemerdekaan. Teologi yang mengajarkan pinsip-prinsip dan sifat Allah yang merdeka, mengasihi manusia dalam Yesus Kristus  dan memerdekakan manusia dalam segala bidang kehidupan – politik, ekonomi, budaya dan ilmu pengetahuan agar manusia dapat  hidup dalam peri kemanusiaan sambil memuji dan memuliakanNya.
Teologi kemerdekaan yang dimaksud oleh Karl Barth sangat berbeda dengan teologi yang hanya bicara tentang neraka dan sorga yakni hubungan antara manusia dengan Tuhan. Kemerdekaan bukanlah semata-mata kebebasan memilih menurut kehendak hati,  melainkan kemerdekaan dari berbagai penindasan yakni perampasan tanah dan kekayaan alam, kekerasan, diskriminasi dan marginalisasi dan sebagainya yang dilakukan secara sistematis, sengaja maupun tidak sengaja, mengatas namakan negara, kelompok maupun individu yang merasa berkuasa.  Bukan juga Ideologi dunia merdeka yang lazim dijunjung tinggi  oleh orang–orang atau negara  yang berkuasa.  Kemerdekaan yang dimaksud lebih dari itu, merdeka sesungguhnya hidup bersama Allah dan sesama manusia dalam perikemanusiaan yang sejati.
Fernando Armindo Lugo Méndez  adalah orang yang menganut dan mempratekkan teologi pembebasan bagi “rakyat” di Paraguay. Pria kelahiran 30 Mei 1951 di  San  Solano,  Itapua, Paraguy ini menjabat sebagai kepala negara (presiden). Dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilu presiden 2008 dengan mengantongi suara 41 %. Sebelum terjun ke dunia politik, dia pernah menjadi uskup gereja Katolik Paraguay, kemudian mengundurkan diri dari kepemimpinan gereja untuk mencalonkan diri menjadi presiden atas permintaan dan desakan rakyat Paraguay.
Uskup ini dalam pelayanannya melihat persoalan umatnya secarah utuh, yakni mendalami persoalan-persoalan umatnya dari aspek politik, ekonomi dan budaya. Dia merupakan satu-satunya uskup yang menerapkan teologi pembebasan “teologi  kritis dan dialektik”. Dia benar-benar telah mendalami, merasakan dan juga mencari jalan keluar dengan cara memperjuangkan setiap hal yang menjadi persoalan umatnya.
Latar Belakang Fernando
Lugo berasal dari keluarga yang tidak terlalu religius. Ayahnya seorang politikus dan jarang ke Gereja. Pamannya, Epifanio Menes Fleitas adalah seorang tokoh politik dari partai Colorado. Lugo juga memiliki latar belakang dari keluarga petani. Menamatkan pendidikan pada usia 17 tahun di sebuah sekolah milik Jesuit, kemudian bekerja di sebuah sekolah di pedalaman (Encarnacion).
Pada umur 19 tahun Lugo memutuskan untuk masuk Seminari. Hal ini bertentangan dengan kehendak ayahnya yang menginginkan dirinya menjadi seorang pengacara. Setelah menamatkan pendidikan di seminari, Lugo melamar ke Serikat Sabda Allah (SVD: Sociedad del Verbo Divino atau Societas Verbi Divini). Pada 15 Agustus 1977, ditahbiskan menjadi imam Katolik dan ditugaskan ke Ekuador selama lima tahun. Di tempat tersebut belajar banyak mengenai teologi pembebasan, sebuah cabang dari pemikiran Kristen yang berpendapat bahwa itu adalah misi gereja untuk melawan kemiskinan dan penindasan.
Pemahamannya tentang ajaran Injil, ajaran sosial gereja dan teologi pembebasan yang menekankan keberpihakan kepada orang miskin dan tertindas, cinta kasih dan solidaritas global tidak terkungkung pada tataran teoritis, tetapi dia mengkongkritkan maksud injil, ajaran sosial gereja dan konsep teologi pembebasan dilahirkan agar tidak terkesan berteori atau hanya bicara saja. Teologi Pembebasan juga memberi inspirasi bagi tindakan politiknya, menurutnya ajaran sosial dan nilai-nilai luhur seperti yang diajarkan berbagai agama, perlu diwujudnyatakan bagi masyarakat lapisan bawah yang umumnya terlantar atau diterlantarkan.
Pada tahun 1987, kembali ke Paraguay kemudian mulai aktif membela kaum tertindas. Keterlibatannya mendapat sorotan dari pemerintah hingga akhirnya Polisi rezim yang berkuasa meminta gereja untuk mengasingkannya. Pada tahun itu pula ia dikirim untuk belajar di Roma hingga memperoleh gelar Licenciat dalam ilmu sosial. Tanggal 17 April 1994 ditahbiskan sebagai seorang uskup dan ditugaskan di wilayah San Pedro, salah satu wilayah miskin di Paraguay. Selama 10 tahun dia menjabat sebagai uskup.
Konteks Persoalan Rakyat Paraguay
Paraguay memiliki tanah yang sangat luas, mulai dari Selatan yang berbatasan dengan Argentina hingga ke bagian Chaco Bolivia. Kenyataannya, tanah yang luas itu banyak  orang Eropa memiliki bersertifikat atas tanah tersebut. Pemerintah Paraguay sudah menjual tanahnya lebih dari 80% sehingga dikuasai oleh segelintir orang kaya. Sementara rakyat Paraguay terpaksa hidup sebagai penyewa di tanah air sendiri seperti saat ini dialami oleh rakyat Papua Barat.
Pendapatan utama negara ini bersumber dari produk-produk pertanian, terutama kedelai dan produk utama,  menyumbang lebih dari setengah hasil ekspornya, pada tahun 2007 mengjasilkan 2.390 juta dolar AS. Tingkat pertumbuhan ekonominya sebenarnya cukup baik, yaitu 6,4 persen per tahun. Jumlah penduduk hanya 6,5 juta jiwa, negara dengan luas wilayah 406.762 km persegi ini seharusnya bisa mensejahterakan rakyatnya. Namun karena negara menjual kepada pemilik modal dan dikuasai oleh kediktatoran selama 39 Tahun, korupsi dan nepotisme merajalela, dan lebih dari sepertiga penduduknya adalah petani tanpa tanah.
Paraguay memiliki dua perusahaan Hindricos, mengunakan kekuatan air untuk mengaliri listrik di Brasil dan Argentina. Namun, banyak rakyat Paraguay  belum hidup dalam kegelapan, sementara pemerintahnya berjaya dalam korupsi dengan menjual turbin-turbin pembangkit listrik. Kondisi ini menciptakan  Paraguai menjadi  negara paling miskin di kawasan Amerika Latin. Sekitar 60% warganya tergolong miskin, 32% berada dalam kemiskinan absolute. Masalah kesehatan, menurut PBB di antara 10 orang Paraguay hanya satu orang yang memiliki asuransi kesehatan. Sekitar 25% warganya memilih pergi ke dukun untuk mengobati diri bila sakit karena tidak sanggup membeli obat-obatan.
Keadaan seperti itulah yang membuka mata Lugo dan bersama para petani memperjuangkan kembali tanah-tanah mereka. Mengorganisir petani dan bergabung dengan Ciudadana Resistencia (Perlawanan Sipil), sebuah serikat anti-Colorado partai politik dan organisasi sosial. Kemenangannya mengakhiri 61 tahun kekuasaan  Partai Colorado  dan berhasil mempersatukan para pemilih untuk menentang korupsi dan kekacauan ekonomi. Dia berjanji membersihkan korupsi dan mengangkat hak – hak penduduk asli Indian yang terpinggirkan.
Dari sudut kegembalaannya sebagai uskup,  telah berteriak bersama umat, memperjuangkan hak-haknya yang dikuasai tuan-tuan tanah (latinfundos) kepada para petani. Lugo mulai menggalang kekuatan untuk melakukan reformasi agraria. Kemiskinan bisa dicabut dari petani apabila mereka memiliki lahan sendiri. Namun gerakan mobilisasi tersebut tak semudah membalikkan telapak tangan. Teriakan, seruan, seperti menghadapi tembok beton. Mekanisme korupsi sudah menjadi tradisi sehingga sulit diubah kecuali bila dapat masuk ke dalam sistem pemerintahan dan mengubah situasi  dari dalam.
Rakyat meminta kesediaannya menjadi Presiden dan terlebih karena realita penderitaan rakyat Paraguay, Lugo mengajukan pengunduran diri sebagai uskup kepada Vatikan pada Januari 2005. Dia ingin terjun langsung dalam politik dan berjuang untuk mengatasi kemiskinan di negaranya. Paus Benediktus XVI terkejut saat mengetahui beberapa partai politik di Paraguay bermaksud mencalonkan Lugo sebagai kandidat dalam pemilihan Presiden. Namun permintaannya ditolak. Menurut Vatikan bila seseorang telah ditahbiskan menjadi pelayan Tuhan maka dia harus melaksanakan pengabdiannya seumur hidup hehingga menjadi presiden jelas melanggar tanggung jawab seorang uskup.
Hukum Kanon (kitab berisi dogma-dogma dalam Gereja Katolik) melarang para imam untuk berpartisipasi dalam partai politik maupun organisasi perburuhan.  Vatikan meminta agar, “dalam nama Yesus Kristus,” mempertimbangkan kembali apa yang telah dilakukannya. Kepala Konferensi Uskup Paraguay memperingatkan bahwa Lugo berisiko mendapat pengucilan. Lugo tetap mantap dengan pilihannya. “Saya mencintai gereja saya dan saya tidak ingin meninggalkannya. Saya memutuskan untuk melayani negara saya sebagai Presiden. Kalau ini mengganggu Bapa Suci, saya memohon pengampunannya,” kata Lugo. Atas pernyataannya ini ia terkena suspensi (sanksi berupa penghentian pelaksanaan tugas sebagai uskup yang ditahbiskan).
Tetapi pada Juli 2008, Vatikan mengubah keputusannya. Paus Benediktus XVI mengabulkan permohonannya untuk diberi status sebagai orang awam. Saat terpilih menjadi Presiden, mengangkat kakak Perempuannya Mercedes Lugo, untuk mendampinginya sebagai Ibu Negara Paraguay. Kemenangannya menjadi Presiden Paraguay menambah panjang barisan pemerintahan kiri di Amerika Latin.  Membawa Paraguay ke sistem soialisme, bergabung dengan Argentina, Brasil, Uruguay, Chili, Bolivia dan tentu saja Venezuela. Bersama 3 negara yang disebut pertama, Paraguay bergabung dalam grup perdagangan Mercosur. “Kemenangan Lugo segaris dengan iklim politik gerakan progresif di Amerika Latin,”
Lugo sering disebut ‘pastor merah’ atau ‘pastor si miskin’ lebih memilih disebut progresif dari pada Sosialisme. Perubahan yang dilakukan pertama kali saat menjabat sebagai presiden dengan menolak menerima gaji presiden bernilai 4.000 dolar AS atau sekitar Rp 37 juta per bulan. Gaji yang lebih rendah daripada gaji anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang berkisar Rp 49 juta per bulan. Atau jauh lebih rendah dari gaji Presiden negara Indonesia sekitar Rp 62,5 juta per bulan.
Dia juga melakukan peningkatan pelayanan publik dengan pertama-tama melakukan depolitisasi birokrasi. Dilakukan pula kontrol ketat atas pengelolaan keuangan negara untuk mencegah korupsi. Dilakukan perubahan tata kepemilikan tanah, serta menciptakan kedaulatan energi. Presiden Lugo memiliki prinsip, “Kaki saya sudah berdiri untuk kaum miskin. Tidak mungkin kaki yang sama berdiri untuk dua tempat berbeda. Kalau saya berada di istana kepresidenan, posisi berdiri saya tetap untuk kaum miskin.’’.
Konteks  Teologi Pembebasan di Papua
Jika kita bertanya, apakah ada hamba Tuhan di Papua sama seperti Fernando?   Jawabanya tentu ada, mereka adalah  Dr. Benny Giay, Socrater Sofyan Yoman, Pater John Yonga, Pater Neles Tebay dan juga Uztad dan Haji Papua serta beberapa  pendeta yang lantang berbicara tentang penindasan dan perampasan hak rakyat Papua. Mereka adalah hamba Tuhan yang melihat umat manusia Papua dari semua aspek kehidupan,.Menerapkan teologi yang dialektis dan kritis, sesuai dengan kontek umat Papua supaya umat Tuhan di Papua tidak hanya bebas dari neraka tetapi bebas dari segala macam bentuk penindasan. Entah penindasan secara politik, ekonomi, budaya maupun secara rohani, sehigga terciptanya surga di bumi Papua.
Rakyat (umat) Papua membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memenuhi  rohani tetapi juga bisa  merasakan dan menjawab apa yang mereka rasakan. Mejadi pelopor seperti Lugo, seorang pemimpin yang mengorganisir basis dan turun ke kelas tertindas untuk memobilisasi massa dengan menjalankan prinsip – prinsip teologi pembebasan untuk melawan pihak rezim yang menindas dan merampas milik rakyat. Para hamba Tuhan yang tentunya memiliki basis (umat) yang besar. Dalam  konteks Papua, kaum yang tertindas adalah masyarakat adat, petani di kampung, peramu nelayan, kaum miskin kota, atau buruh yang berkumpul menjadi umat suatu gereja sehingga mereka punya tanggungjawab moral dan bagian dari misi gereja  untuk membebaskan umatnya dari segala  bentuk penindasan. Melakukan agitasi dan propaganda positif agar umatnnya bertindak menyuarahkan hak – hak mereka.
Sebaliknya, ada banyak Hamba Tuhan di Papua telah menyembunyikan kebenaran dibalik mimbar dan tidak melihat penderitaan umat secara menyeluruh. Mereka sebatas melihat jemaat dari perspektif persekutuan rohani semata. Ini terjadi karena  gerejanya dibangun dari uang pemerintah, atau dapurnya dijamin oleh uang persembahan para pejabat pemerintah. Mungkin karena diberi rumah dan kendaraan mewah, atau karena merasa umatnya sebagian besar adalah warga pendatang, sehingga takut berbicara mengenai keadilan bagi rakyat Papua. Atau jika Hamba TUHAN mengkritik pemerintah akan kehilangan semua yang di dapatkan.
Padahal, nilai kebenaran, keadilan dan perdamaian menembus semua perbedaan, suku, ras atau wilayah. Jika mimbar hanya berisi khotbah tentang sorga dan neraka tanpa melihat realita kehidupan umat, maka umat akan terus berada di lingkaran keterpurukan. Kekerdilan penafsiran mengenai keterlibatan gereja dan pendeta dalam politik adalah dosa, telah menjebak para pendeta (Hamba Tuhan) untuk tidak menyuarakan keadilan bagi rakyat Papua yang tertindas. Anehnya, mereka justru terkadang berpolitik dengan mengusung  calon gubernus, bupati/walikota di saat ada Pilkada. Ikut dalam pencalonan anggota parlemen hingga menerima uang  dan bantuan yang ternyata bermotif politik. Calon yang mereka dukung pun setelah berkuasa dalam pemerintahan yang menindas, ternyata tidak mampu menghapus penderitaan rakyat (umat) Papua. Inilah karakter para Hamba Tuhan kita hari ini…!!! (Igee-86 dan Saren).


Share Button
 
Media Merdeka : KNPB NEWS | AMP Jogja | NRPB
Copyright © 2011. YANG TERLUPAKAN - All Rights Reserved
© Copyright 2014 Papua Merdeka
Proudly powered by Blogger